Yuk! Berdamai dengan “Mental Illness”
Sebelum
aku mulai ke topik permasalahan, aku ingin tahu nih siapa sih yang tidak pernah
menangis, sedih, patah hati, merasa gagal, dan sebagainya? Atau ada tidak sih seseorang yang hidupnya mulus
seperti jalan tol tanpa pernah merasakan kesedihan?. Sepertinya bakalan nihil
deh di dunia ini. Kalian pernah baca nggak bahwa dalam publikasi World Health
Organization (WHO), satu dari empat orang di dunia terjangkit gangguan mental
atau neurologis dalam beberapa waktu di dalam hidup mereka. Kita nggak perlu
jauh-jauh deh, ternyata di negara kita sendiri yaitu Indonesia disebutkan dari
data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dikombinasi dengan Data
Rutin dari Pusdatin dengan waktu yang disesuaikan, prevalensi gangguan mental
emosional yang ditunjukan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar 6%
untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan prevalensi
gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, adalah 1,7 per 1.000 penduduk atau
sekitar 400.000 orang. Wah banyak sekali ya!.
Berbicara
tentang gangguan mental atau ‘mental illness’, hal ini didefinisikan
sebagai suatu keadaan dimana seseorang mengalami tekanan mental yang merujuk
pada emosional pikiran, perasaan, dan perilaku yang menyulitkan seseorang
untuk bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas lain. Apalagi di zaman
yang sudah modern seperti saat ini, kecenderungan seseorang khususnya remaja
untuk terkena mental illness juga semakin meningkat seiring dengan
menjamurnya platform media sosial. Hal itu terjadi karena melalui media sosial
lah ajang untuk mengekspresikan diri dan segala aktivitas yang dilakukan dan
tanpa disadari hal itu bisa memengaruhi bagaimana cara orang lain menilai
tentang diri kita. Ada yang memiliki kehidupan mewah bak mega bintang adapula
yang sebaliknya.
Selain iitu, faktor lain penyebab
terjadinya Mental Illnes ini muncul oleh banyak faktor, bisa karena stres,
depresi karena mengalami tekanan yang dalam terhadap mental, atau traumatik
akan kehilangan sesuatu dan seseorang. Tekanan batin karena lingkungan sekitar
atau orang tua, kurang perhatian atau kasih sayang dan masih banyak lagi.
Adapun untuk jenis-jenis mental illness sendiri dibedakan menjadi beberapa
kelompok, seperti gangguan kecemasan dan gangguan mood yang masing-masing
terdiri dari berbagai jenis mentall illness lainya.
Upaya
menenangkan dirinya ketika Mental Illness-nya kambuh adalah dengan diam,
mencoba mengatur napas dan membuat dirinya lebih tenang, meskipun sebenarnya
tidak bisa dan merasa semakin parah. Hal lainnya dengan melakukan kesibukan
yang mungkin bisa membuatnya lupa, seperti tidur, menonton film atau menelepon
teman-teman dekatnya.
Selain
untuk penanganan diri sendiri, kita bisa membantu orang lain yang sedang
mengalami mental illness. Berikut adalah cara memperlakukan orang yang
menderita mental illness yakni :
1. Hargai Mereka
Biasanya salah satu hal
yang paling dibutuhkan oleh orang yang mengalami gangguan mental adalah
didengar. Tidak bisa dipungkiri, orang normal pun juga ingin di dengar.
Sayangnya, tidak semua orang mampu memahami dan menghargai mereka. Kebanyakan
dari penderita mental illness banyak diremehkan. Padahal, ketika mereka
dihargai dan didengar, pikiran dan perasaan mereka akan lebih mudah membaik.
2. Pahami Keadaan Mereka
Paranoia merupakan
gangguan mental yang membuat seseorang yang mengalaminya akan merasa bahwa
orang lain ingin membahayakan dirinya. Oleh karena itu, biasanya, orang dengan
paranoia akan sering merasa takut dan menjaga jarak dengan lingkungan sekitar.
Pahami keadaan mereka, dan janganlah menjauh dari mereka. Bagaimanapun keadaan
mereka, mereka juga ciptaan Allah dan tetap membutuhkan kehadiran Anda.
3. Perhatikan Ucapan
Anda
Dalam hal ini, penderita
mental illness memang lebih sensitif dibandingkan dengan hal yang lain,
oleh karena itu berhati hatilah anda dalam berucap. Ada beberapa respon
positif yang mungkin bisa Anda terapkan pada teman/keluarga Anda yang memiliki gangguan
mental adalah:
- Berikan dukungan Anda dengan, “Kalau kamu butuh sesuatu,
kabari aku saja, ya.”
- Berbicara dengan mereka dengan cara yang sama seperti
yang Anda lakukan sebelumnya.
- Berikan mereka kasih sayang dan dukungan agar mereka senantiasa
merasa aman dan tidak sendirian dalam berjuang. Hal tersebutlah yang pada
akhirnya dapat membantu proses pemulihan mereka berlangsung lebih cepat.
Komentar
Posting Komentar